piccc

1.31.2014

Introvert.

So, hello sweetheart!
Thanks for coming and reading my posts, i had a hot topic for my own yesterday that spined around my head omg.
What is that? Introvert. 
Like i was going to take my yearbook in my friend's house with my 2 friends; Dindra, Nindy. One of them told me when we're on the way that she has a kind of feeling like introverts lately. I asked myself first 'Have you ever heard that word? Omg!" Then, yes. I never heard that word before, so i asked them what is the meaning of introvert like 'Introvert tuh apa?' Blablabla they told me like that because we talked formally and i don't think you can also understand it.
Finally, arrived at home and i googled it; about that introvert. And, let's check it out!

Definition: Contrary to what most people think, an introvert is not simply a person who is shy. In fact, being shy has little to do with being an introvert! Shyness has an element of apprehension, nervousness and anxiety, and while an introvert may also be shy, introversion itself is not shyness. Basically, an introvert is a person who is energized by being alone and whose energy is drained by being around other people.

Introverts are more concerned with the inner world of the mind. They enjoy thinking, exploring their thoughts and feelings. They often avoid social situations because being around people drains their energy. This is true even if they have good social skills. After being with people for any length of time, such as at a party, they need time alone to "recharge."

When introverts want to be alone, it is not, by itself, a sign of depression. It means that they either need to regain their energy from being around people or that they simply want the time to be with their own thoughts. Being with people, even people they like and are comfortable with, can prevent them from their desire to be quietly introspective.

Being introspective, though, does not mean that an introvert never has conversations. However, those conversations are generally about ideas and concepts, not about what they consider the trivial matters of social small talk.


2006 Japanese study found that introverts tend to have lower blood pressure than their extroverted counterparts. Beside that, Introverts are a writer. Introverts are often better at communicating in writing than in person, and many are drawn to the solitary, creative profession of writing. Most introverts -- like "Harry Potter" author J.K. Rowling -- say that they feel most creatively charged when they have time to be alone with their thoughts. (Etc, you can find another signs about introvert here.)

So guyssss!
What did you do when you read this post about introvert? Did you do 'Gue banget dah' or like 'It's so not me lah c'mon
Lmao whatever your response is, hope this post can help y'all to improve your knowladge.
Pyu.
See you, luv!



1.27.2014

Testimoni 3.

Pyu.
I dedicate my xx post on this blog for my daddy who is watching me right now from heaven. St. Johnny Sitorus. Thank you for never letting me fall and being the greatest father in my life, even it’s just for a very short time. I’m not good at writing; poems, quotes or whatever it is, but the only thing i can do is telling you that i’m so proud i’m here and father should know no matter how hard my life is i won’t ever give everything up just for a stupid little thing, because i know upside there father help me to say it to Jesus to wipe my tears and hug me very soon, no regret at all.

Love, Lia.

1.22.2014

Testimoni 2.

Selamat sore yang terkasih :)

Pak Fathuddin menuliskan sesuatu di papan tulis, tulisannya: He said "The world is round and the sun rises on the east".
PF : Coba Chandra..ubah kalimatnya jadi kalimat pasif, gimana? Ya, coba..maju.

[Intermezo] Saya tidak ingin menjadi seseorang yang lamban baik dalam berpikir, mengambil keputusan dan bertindak. Menurut saya ketika kesempatan itu datang, itulah saat di mana Tuhan mengizinkan saya untuk menjadi seorang yang melangkah terus maju. Saya ingat salah satu Mr. saya sewaktu saya les bahasa Inggris ketika saya bilang "Mister, tapi salah ngga papa?" dan Mr. berkata "Ngga papa salah, yang penting kamu berani jawab..namanya juga masih belajar daripada jadi pengecut; beraninya di belakang, kalo temennya salah berkicau paling pandai". Menghakimi, jelek.

Sayapun beranjak dari kursi dan mengambil spidol yang diberikan oleh Pak Fathuddin dan menuliskan jawaban sebisa saya, yaitu: He said that the world was round and the sun rised on the east. Ternyata jawaban saya salah. Jadi, pada waktu itu dosen bahasa Inggris saya sedang mengajarkan kami cara mengubah kalimat aktif menjadi kalimat pasif. Dan Pak Fathuddin bilang bahwa semua kalimat yang berupa kebenaran dan fakta tidak usah diubah jenis kalimatnya cukup seperti ini: He said that the world is round and the sun rises on the east. Singkat cerita, saya kena jebakan batman milik dosen bahasa Inggris saya yang dahulu adalah seorang jurnalis di koran jakpos.

Pak Fathuddin.
Testimoni ini saya tuliskan karena Beliau adalah salah satu dosen yang saya senangi di kelas.
Bukan karena tampan, bukan karena berkarisma, dan bukan karena lucu. Tapi karena Beliau tulus hati mengajar mahasiswa, yang sering kali mahasiswa malah meremehkan dan tidak menanggapi Beliau.
Pak Fathuddin sudah berumur, rambutnya sudah putih dan di wajahnya sudah banyak keriput. Tapi terlihat bahwa Beliau adalah seorang yang gemar belajar dan mengajar. Satu yang membuat Pak Fathuddin berbeda dari dosen-dosen lain adalah cara Beliau mengajar, di mana Beliau sering kali memberikan kami jebakan-jebakan batman, kita merasa kita tahu jawabannya tapi sayangnya Beliau lebih cerdik daripada kita yang masih muda dan fresh ini. 
Di kelas, Pak Fathuddin sering mengalami penolakan secara halus seperti kursi-kursi di depan sengaja dikosongkan, mahasiswa sibuk dengan urusannya masing-masing dan menghiraukan Beliau, ada beberapa mahasiswa yang suka cabut dan lain-lain. Tadi siang, saya bersama teman saya Fitra mengamati bahwa begitu uniknya dosen yang satu ini, mengajar sambil berjenaka. Saya dan Fitra sebelumnya duduk di belakang, tapi karena Fitra mengajak saya untuk pindah ke depan agar bisa lebih menghargai Pak Fathuddin, akhirnya kami berdua duduk di barisan kedua dari depan. Dan lucunya, Fitrapun akhirnya kena jebakan batman Pak Fathuddin.
Hari ini (mungkin) adalah hari terakhir Pak Fathuddin mengajar di kelas 1EB06 karena masa semester ganjil hampir usai, tapi jika Bapak diberi kesempatan lagi untuk mengajar di kelas kami, saya akan sangat merasa bangga masih bisa bertemu kembali dengan Pak Fathuddin di semester genap :) 

Selama Bapak mengajar, banyak pelajaran yang kami dapat, tidak hanya sekedar ilmu tapi juga cara menghargai seseorang; secara tidak langsung Bapak telah mengajarkan kami tentang hal itu. Meskipun pada minggu-minggu awal cara Bapak mengajar memang sedikit membosankan, tapi saya sadar semua itu membutuhkan adaptasi, baik dari pihak si pengajar maupun yang diajar. Apalagi Bapak sudah bukan di umur yang mudah untuk bergaul dengan anak-anak muda seperti kami. Bapak sering memberikan ungkapan-ungkapan dalam bahasa Inggris yang jarang sekali saya terima selama saya duduk di bangku sekolah. 
Terima kasih banyak Pak Fathuddin, semoga Bapak dan keluarga senantiasa diberkati, diberikan kesehatan dan umur yang panjang oleh Allah.

1.19.2014

Termotivasi atau Tidak?

Hallo!
Pagi ini saya ingin sharing sedikit tentang wirausaha atau mendirikan usaha sendiri baik mendirikannya secara personal atau hanya membuka cabang.
Sebelumnya saya bersama teman satu kelompok saya dalam mata kuliah pengantar bisnis telah melakukan penelitian terhadap suatu perusahaan furniture yang berada di daerah Cileungsi, Bogor - Jawa Barat. Melihat dari hasil penelitian yang kami peroleh dan wawancara langsung bersama pemilik perusahaan, sayapun mulai berpikir kira-kira di masa yang akan datang apakah saya juga dapat bekerja atau menjadi seorang wirausaha seperti Bapak Widodo (pemilik usaha furniture) itu? 
Akhirnya, berkat Beliau saya menjadi sedikit termotivasi untuk berwirausaha bila Tuhan berkehendak dan memberikan kesempatan. Sebenarnya sejak dulu saya sudah memimpikan, ketika sudah mempunyai cukup modal (uang) kelak, saya akan mendirikan sebuah bakery di dekat rumah atau mungkin lebih baik di dalam pusat perbelanjaan. Jika usaha bakery sukses, satu keinginan saya yang lain adalah mendirikan sebuah salon. Kenapa salon? Sewaktu jalan-jalan bersama Ibu saya, Ibu saya pernah bilang jika Ibu saya sudah pensiun nanti, Beliau hendak belajar tata rias agar bisa mengisi waktu kosong dengan melayani tamu di salon kami nanti. Aamiin.

Mungkin sedikit kritik dan saran untuk perusahaan online furniture milik Bapak Widodo; saran saya jika Bapak sudah merasa mendapatkan laba supernormal, bagaimana kalau Bapak buka cabang di lain tempat? Mungkin dengan begitu pelanggan Bapak bisa bertambah lebih banyak, dan mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Untuk kritik, mungkin sistem pembelian secara online yang mendominasi usaha Bapak bisa lebih di tingkatkan lagi keamanannya atau diperketat untuk menghindari pelanggan-pelanggan yang sering kabur begitu saja sebelum membayar.

1.18.2014

Dijadikan Pembelajaran (saja).

Lagi.
Saya akan menuliskan sebuah tulisan yang ada di dalam pikiran saya.
Ketakutan yang paling sangat tidak mengenakan bagi saya adalah banyak orang berkomentar mengenai apa yang saya lakukan termasuk mengkritik. Tapi kembali lagi saya berintuisi bahwa justru komentar dan kritik tersebutlah yang dapat membangun kita...atau bahkan menjatuhkan? Semua itu tergantung bagaimana kita tiap individu menyikapinya.

Entah saya yang tinggal di generasi yang salah atau memang inilah yang sebenarnya hendak terjadi. 
Di era yang sudah sangat menglobal ini, semakin banyak orang-orang yang jauh dari kata 'It's not my bussiness at all'. Mungkin ada yang bilang "Engga, ah." dan bagi yang yang bilang, mungkin kalian belum menemukan orang-orang yang tadi saya maksud. Tapi unfortunately begitu banyak orang-orang di sekitar saya dan di sekitar teman-teman saya yang gemar mengurusi urusan orang lain, baik itu urusan saya maupun si A ngurusin urusan si B. Saya rasa ketika banyak orang mulai mengurusi urusan orang lain, itu dimulai ketika banyaknya jejaring sosial yang bermunculan. Oh, tidak! Ternyata tanpa jejaring sosialpun orang-orang yang menyebalkan itu bisa terus merasuk dan bikin muak. 

Jadi ada cerita. Ada adik kelas bernama X, adik ini sangatlah rajin dalam belajar, aktif di kelas, mendengarkan dan memperhatikan guru dengan baik, sering bertanya dan menjawab, dan catatannyapun rapi. Teman-teman selalu beranggapan atau berpikir bahwa adik ini adalah murid yang pintar. Seminggu sebelum ujian akhir dimulai, X sudah mempersiapkan materi maupun dirinya dengan baik untuk menghadapi ujian akhir minggu depan. Tiba hari H ujian akhir, dari 12 mata pelajaran di sekolah nampaknya dan menurut feeling X, X bisa mendapatkan 90% hasil yang cukup memuaskan, sisanya berupa keraguan. Biasanya, seminggu setelah pekan ujian berlangsung, guru-guru di kelas bergegas membagikan/membacakan nilai murid-murid bersamaan dengan jadwal remedial, tapi kali ini berbeda karena masih banyak guru-guru yang belum mendapatkan daftar nilai murid dan ada juga beberapa yang belum selesai dikoreksi ulang. Ketika guru 1 masuk ke kelas dan mulai membagikan nilai murid-murid, semuanya gaduh, berisik dan asik meyibukkan diri mereka dengan pertanyaan 'Nilai kamu berapa?'. Bagi beberapa orang dan termasuk saya, 'Nilai kamu berapa?' merupakan pertanyaan yang sangat merusak telinga dan menyebalkan. Menurut saya akan banyak pihak-pihak yang dirugikan jika pertanyaan seperti itu timbul setelah hasil ujian/nilai dibacakan. Kerugian pertama, jika nilai X lebih tinggi dari nilai Y, hati Y akan hancur; tidak akan hancur jika Y menyikapinya secara bijak, misalkan dijadikan acuan dan memotivas Y untuk lebih giat belajar. Setidaknya at first Y kecewa. Kerugian kedua, kebalikan dari kerugian pertama, X mengucapkan nilainya, dan Xpun memberanikan diri untuk menanyakan kembali 'Nilai kamu berapa?' ke Y. Jika nilai X lebih rendah, X malu, hatinya hancur dan keluar kata 'Yah..'. Kerugian ketiga, jika X dan Y mendapatkan nilai yang tinggi dan Z secara tidak sengaja mendengar nilai mereka yang mana ketika itu Z mendapatkan nilai jauh di bawah nilai X dan Y, Z sedih dan kecewa, bahkan shock. Kerugian keempat X lebih memilih untuk diam, dan tidak memberi tahukan Y nilainya berapa. Y kesal dan menganggap X pelit. Dan masih banyak kerugian-kerugian lain dari pertanyaan 'Nilai kamu berapa?'. Coba kita bayangkan apa yang akan terjadi jika nilai X ternyata jelek dan jauh di bawa teman-temannya. Biasanya ini pasti terjadi. Yang akan terjadi adalah teman-teman yang tahu nilai X jelek akan beranggapan  bahwa ternyata X tidak sepintar dari yang mereka lihat dan bayangkan sebelumnya, bahkan tidak lebih pintar dari mereka. Sungguh menyedihkan melihat kondisi yang seperti ini, semudah dan secepat itu orang-orang menilai kepintaran atau bahkan kepandaian seseorang hanya dari sebuah merah di atas putih. Itu bukan urusan kalian jika X dapat nilai bagus atau jelek, setelah kalian tahu nilai X, lantas apa yang akan kalian lakukan? Apa ada profit yang kalian dapat? Atau hanya sekedar 'Pingin tahu aja.'? Mungkin bagi orang-orang cerdas dan bijak mengetahui nilai orang lain akan dijadikan baik motivasi atau titik acuan, tapi realitanya sudah jarang orang-orang yang seperti itu duduk tenang di kelas, apalagi sekarang banyak bermunculan orang-orang yang terlalu result-oriented. 
Apakah dengan aktif di kelas, mendengarkan dan memperhatikan guru dengan baik, sering bertanya dan menjawab di kelas itu berarti X merupakan anak yang pintar dan ciri-ciri bintang kelas? Apa dengan memiliki catatan yang rapi X pasti akan mendapatkan nilai yang bagus? Lagi-lagi secepat itu orang-orang menilai kepribadian seseorang.

Tidak ada satupun yang tahu apa yang akan terjadi besok. Jangan sibuk mengurusi dan mengomentari urusan orang lain. Apa tidak cukup Tuhan berikan hidup yang perlu kita urusi kepada kita? Sudah merasa pandai mengurusi urusan orang lain?
Ketika banyak orang yang berucap bahwa semua itu adalah tanda kepedulian, kenyataan mengatakan tidak.
Saya di sini bukan untuk menuntut, kembali lagi bahwa memang pada faktanya semua orang mempunyai hak untuk rasa keingin tahuan mereka masing-masing. Tapi bisakah kita gunakan rasa keingin tahuan itu dalam konteks yang positif?

1.17.2014

Pemilu 2014 Sebentar Lagi!!

Selamat pagi buta, Teman!
Kali ini saya akan mencoba membahas masalah pemilu 2014. Meskipun terbesit dalam hati bahwa saya masih belum cukup umur atau belum cukup pandai dalam membahas hal-hal yang berbau politik apalagi ada sangkut pautnya dengan negara.
Karena begitu greget melihat capres dan cawapres begitu semangat menebar janji-janji melalui media televisi sayapun merasa ingin bertukar pikiran atau ikut menanggapi isu pemilu tahun ini, untungnya tahun ini saya sudah berumur 17+ (if you know what i mean).

"Pemilu 2014 akan dilaksanakan dua kali yaitu Pemilu Legislatif pada tanggal 9 April 2014 yang akan memilih para anggota dewan legislatif dan Pemilu Presiden pada tanggal 9 Juli 2014 yang akan memilih Presiden dan Wakil Presiden.

Pemilu 2014 akan memakai sistem e-voting dengan harapan menerapkan sebuah sistem baru dalam pemilihan umum..." 

Saya tidak akan membahas tentang sistem pemilu tahun ini, karena menurut saya sistem e-voting ini  sudah pasti lebih efektif dan efisien dibanding pemilu yang biasanya. Yang hendak saya bahas adalah mengenai calon-calon pemimpin bangsa yang sedikit meragukan namun ada juga yang (mungkin) dapat mengubah Indonesia menjadi lebih baik. 
Sebelumnya semenjak kakak perempuan saya berlibur ke Jakarta dari Bandung, kami berdua seringkali membicarakan seperti 'Siapa yang akan jadi Presiden dan Wakil Presiden tahun ini, ya?' 
Melihat nama-nama kandidat yang sudah mencalonkan diri berpartisipasi dalam pesta pemilu tahun ini, nampaknya akan sangat seru dan berbeda jauh dengan pemilu 2009. Pemilu tahun ini diselenggarakan secara bebas dalam arti kandidat yang dicalonkan dapat berstatus anggota ParPol atau non ParPol. Seperti Bpk. Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina (non parpol). Beliau sudah mantap mecalonkan diri sebagai Presiden dengan menjadi salah satu peserta konvensi calon presiden Partai Demokrat.
Ada lagi beberapa calon presiden yang sontak membuat saya kaget dengan keputusannya mencalonkan diri untuk menjadi presiden di pemilu tahun 2014 yaitu Rhoma Irama, Farhat Abbas, Joko Widodo, dan Megawati Sukarnoputri. Sebenarnya ini bukan kapasitas saya untuk mengomentari para calon-calon presiden di atas, melihat diri saya yang masih sangat awam dan bahkan belum sebijak dan sekritis orang-orang yang di luar sana. Namun saya merasa ada yang aneh dalam proses pencalonan diri sebagai presiden. Menurut saya, hal seserius ini dalam arti memimpin bangsa lama-kelamaan dijadikan ajang main-main oleh orang-orang yang terlibat. Mungkin saya hanya melihat dari segi jeleknya saja tapi jika benar..ini negara lho, bukan rumah-rumahan.

Negara kita ini negara yang sangat labil. Entah apa yang sedang dipikirkan para calon pemimpin bangsa. Sejujurnya saya sangat antusias mengenai pemilu 2014 tahun ini, karena ini kali pertama saya turut pusing untuk memilih pemimpin bangsa. 

Rhoma Irama, musisi dangdut dan aktor inipun memberanikan dirinya untuk mencalonkan diri sebagai presiden. Beberapa hari yang lalu bersama kakak saya, kami menonton acara Mata Najwa di MetroTV yang dibintang tamui oleh Rhoma Irama. Semua orang memang berhak untuk memutar roda nasib negara kita, melihat Rhoma Irama diserbu penyataan dan pertanyaan dari Najwa saja sudah terlihat bahwa Beliau (menurut saya) seorang yang tidak berpendirian yang tegas dan tidak transparan. Pintar ngeles sana-sini dan menggunakan kaca mata hitam untuk menyembunyikan ekspresi atau tatapan itu sudah bukti bahwa belum ada keseriusan dari Beliau untuk membangun Indonesia. Tapi satu yang saya saluti, karena Beliau sudah berani mencalonkan diri, terlibat dalam politik negara dan berusaha untuk merebut hati rakyat Indonesia. Semoga sukses!

Farhat Abbas, seorang pengacara yang katanya terkenal sering cari sensasi ini juga semangat berpartisipasi dalam pemilu 2014. Wah! Kaget juga melihat Bapak ini yang hendak adu tinju dengan Al anak sulung Ahmad Dhani memberanikan dirinya untuk memimpin bangsa. Lagi-lagi semua orang memang berhak untuk memutar roda nasib negara kita, tapi yang benar saja..? Beliau sangat aktif kalau bicara tentang social media, bahkan tidak jarang banyak followers @farhatabbaslaw yang kontra terhadap pernyataan2 yang diposting oleh Farhat Abbas di official akun twitternya. Di kelas, teman-teman saya juga sering membahas tentang Indonesia kedepannya jika Beliau menjadi Presiden, katanya lebih baik terjun ke dunia entertain saja daripada berpolitik. Tapi sekali lagi satu yang saya saluti, karena Beliau sudah berani mencalonkan diri, terlibat dalam politik negara dan berusaha untuk merebut hati rakyat Indonesia. Semoga sukses!

Joko Widodo, gubernur DKI Jakarta yang belum menyelesaikan masa jabatannya selama 5 tahun ini didukung oleh banyak masyarakat Indonesia terutama masyarakat Jakarta untuk mencalonkan diri sebagai Presiden di pemilu tahun 2014. Saya sendiri lebih mendukung Beliau untuk melanjutkan Jakarta lebih baik dibanding harus berhenti menjadi gubernur DKI dan duduk di Istana Negara tahun ini, namun kalaupun memang ada kesempatan untuk menjadi Presiden, mungkin perbandingan setuju atau tidak setuju saya jadikan 60:40. Di satu sisi, kinerja Jokowi selama 1 tahun ini sudah terlihat sangat jelas dan pesat, mungkin ini sudah menjadi pegangan atau jaminan untuk masyarakat. Jika Beliau maju menjadi Presiden maka otomatis Ahok akan menggantikannya memimpin DKI Jakarta, kebetulan Ahok salah satu tokoh politik yang sangat saya kagumi, namun tetap saja kita juga harus menilainya secara objektif. Jangan hanya dari satu sisi, oke?
Ketika ditanya oleh Najwa di Mata Najwa sewaktu di UNS, dengan nada bicara yang sangat santai dan khas milik Jokowi, Beliau menyatakan tidak ada rencana terlibat dalam pilpres tahun ini. Tapi semua tergantung pada keputusan Jokowi. Semoga sukses! 

Megawati Sukarnoputri, Semoga sukses!

"Pemimpin itu mendobrak keadaan, bukan mengokohkan kemapanan." #MataNajwa

1.05.2014

What do you think about Daria's advice?

Stand firm for what you believe in, until and unless logic and experience prove you wrong.