piccc

1.18.2014

Dijadikan Pembelajaran (saja).

Lagi.
Saya akan menuliskan sebuah tulisan yang ada di dalam pikiran saya.
Ketakutan yang paling sangat tidak mengenakan bagi saya adalah banyak orang berkomentar mengenai apa yang saya lakukan termasuk mengkritik. Tapi kembali lagi saya berintuisi bahwa justru komentar dan kritik tersebutlah yang dapat membangun kita...atau bahkan menjatuhkan? Semua itu tergantung bagaimana kita tiap individu menyikapinya.

Entah saya yang tinggal di generasi yang salah atau memang inilah yang sebenarnya hendak terjadi. 
Di era yang sudah sangat menglobal ini, semakin banyak orang-orang yang jauh dari kata 'It's not my bussiness at all'. Mungkin ada yang bilang "Engga, ah." dan bagi yang yang bilang, mungkin kalian belum menemukan orang-orang yang tadi saya maksud. Tapi unfortunately begitu banyak orang-orang di sekitar saya dan di sekitar teman-teman saya yang gemar mengurusi urusan orang lain, baik itu urusan saya maupun si A ngurusin urusan si B. Saya rasa ketika banyak orang mulai mengurusi urusan orang lain, itu dimulai ketika banyaknya jejaring sosial yang bermunculan. Oh, tidak! Ternyata tanpa jejaring sosialpun orang-orang yang menyebalkan itu bisa terus merasuk dan bikin muak. 

Jadi ada cerita. Ada adik kelas bernama X, adik ini sangatlah rajin dalam belajar, aktif di kelas, mendengarkan dan memperhatikan guru dengan baik, sering bertanya dan menjawab, dan catatannyapun rapi. Teman-teman selalu beranggapan atau berpikir bahwa adik ini adalah murid yang pintar. Seminggu sebelum ujian akhir dimulai, X sudah mempersiapkan materi maupun dirinya dengan baik untuk menghadapi ujian akhir minggu depan. Tiba hari H ujian akhir, dari 12 mata pelajaran di sekolah nampaknya dan menurut feeling X, X bisa mendapatkan 90% hasil yang cukup memuaskan, sisanya berupa keraguan. Biasanya, seminggu setelah pekan ujian berlangsung, guru-guru di kelas bergegas membagikan/membacakan nilai murid-murid bersamaan dengan jadwal remedial, tapi kali ini berbeda karena masih banyak guru-guru yang belum mendapatkan daftar nilai murid dan ada juga beberapa yang belum selesai dikoreksi ulang. Ketika guru 1 masuk ke kelas dan mulai membagikan nilai murid-murid, semuanya gaduh, berisik dan asik meyibukkan diri mereka dengan pertanyaan 'Nilai kamu berapa?'. Bagi beberapa orang dan termasuk saya, 'Nilai kamu berapa?' merupakan pertanyaan yang sangat merusak telinga dan menyebalkan. Menurut saya akan banyak pihak-pihak yang dirugikan jika pertanyaan seperti itu timbul setelah hasil ujian/nilai dibacakan. Kerugian pertama, jika nilai X lebih tinggi dari nilai Y, hati Y akan hancur; tidak akan hancur jika Y menyikapinya secara bijak, misalkan dijadikan acuan dan memotivas Y untuk lebih giat belajar. Setidaknya at first Y kecewa. Kerugian kedua, kebalikan dari kerugian pertama, X mengucapkan nilainya, dan Xpun memberanikan diri untuk menanyakan kembali 'Nilai kamu berapa?' ke Y. Jika nilai X lebih rendah, X malu, hatinya hancur dan keluar kata 'Yah..'. Kerugian ketiga, jika X dan Y mendapatkan nilai yang tinggi dan Z secara tidak sengaja mendengar nilai mereka yang mana ketika itu Z mendapatkan nilai jauh di bawah nilai X dan Y, Z sedih dan kecewa, bahkan shock. Kerugian keempat X lebih memilih untuk diam, dan tidak memberi tahukan Y nilainya berapa. Y kesal dan menganggap X pelit. Dan masih banyak kerugian-kerugian lain dari pertanyaan 'Nilai kamu berapa?'. Coba kita bayangkan apa yang akan terjadi jika nilai X ternyata jelek dan jauh di bawa teman-temannya. Biasanya ini pasti terjadi. Yang akan terjadi adalah teman-teman yang tahu nilai X jelek akan beranggapan  bahwa ternyata X tidak sepintar dari yang mereka lihat dan bayangkan sebelumnya, bahkan tidak lebih pintar dari mereka. Sungguh menyedihkan melihat kondisi yang seperti ini, semudah dan secepat itu orang-orang menilai kepintaran atau bahkan kepandaian seseorang hanya dari sebuah merah di atas putih. Itu bukan urusan kalian jika X dapat nilai bagus atau jelek, setelah kalian tahu nilai X, lantas apa yang akan kalian lakukan? Apa ada profit yang kalian dapat? Atau hanya sekedar 'Pingin tahu aja.'? Mungkin bagi orang-orang cerdas dan bijak mengetahui nilai orang lain akan dijadikan baik motivasi atau titik acuan, tapi realitanya sudah jarang orang-orang yang seperti itu duduk tenang di kelas, apalagi sekarang banyak bermunculan orang-orang yang terlalu result-oriented. 
Apakah dengan aktif di kelas, mendengarkan dan memperhatikan guru dengan baik, sering bertanya dan menjawab di kelas itu berarti X merupakan anak yang pintar dan ciri-ciri bintang kelas? Apa dengan memiliki catatan yang rapi X pasti akan mendapatkan nilai yang bagus? Lagi-lagi secepat itu orang-orang menilai kepribadian seseorang.

Tidak ada satupun yang tahu apa yang akan terjadi besok. Jangan sibuk mengurusi dan mengomentari urusan orang lain. Apa tidak cukup Tuhan berikan hidup yang perlu kita urusi kepada kita? Sudah merasa pandai mengurusi urusan orang lain?
Ketika banyak orang yang berucap bahwa semua itu adalah tanda kepedulian, kenyataan mengatakan tidak.
Saya di sini bukan untuk menuntut, kembali lagi bahwa memang pada faktanya semua orang mempunyai hak untuk rasa keingin tahuan mereka masing-masing. Tapi bisakah kita gunakan rasa keingin tahuan itu dalam konteks yang positif?

No comments: