Entah saya yang terlalu egois dan keras kepala, berambisi, berkeinginan besar atau memang sebenarnya lingkungan-lah yang selalu menuntut akan setiap individu untuk diperhatikan?
Mungkin bagi sebagian orang, ini terdengar klise dan sekedar retorika. Tidak demikian bagi saya. Dua pertiga perjalanan hidup saya tidak mudah; beberapa di antaranya sering diliputi situasi sulit yang mengharuskan saya untuk menentukan pilihan antara dua kemungkinan yang sama-sama tidak menyenangkan atau bahkan tidak menguntungkan diri saya sendiri; situasi yang sulit dan membingungkan.
Keluar mulut harimau-masuk mulut buaya.
Kondisi seperti ini yang menjadikan setiap orang merasa terancam atas pilihannya, sebenarnya berpikir terlalu keras juga tidak baik. Tapi saya tidak munafik, saya suka berpikir keras, saya suka merenungkan hal-hal besar yang jangkauannya 5-10 tahun ke depan karena bagi saya dengan berpikir keras saya bisa belajar akan banyak hal.
Let's be honest.
And don't waste our time on this topic.
Pilihan saya ada dua: memilih untuk menjadi seorang "konsultan" dan merasakan banyak kepahitan dan terus berjalan di atas rencana yang dahulu sempat Tuhan berikan tapi setidaknya bisa menjadi penyangga bagi orang yang saya kasihi atau berhenti; menyia-nyiakan kesempatan dan mencoba untuk memikirkan serta menyayangi diri sendiri terlebih dahulu sambil melihat orang yang disayangi terluka.
Pendeta di Gereja saya sering menyarankan jemaat untuk tidak terus mempertanyakan Tuhan, namun kondisi terkadang mengharuskan saya untuk mencari tahu sesuatu yang tersembunyi dan bertanya kepada Tuhan. Tuhan, mengapa Engkau hadirkan pilihan yang lain di saat Engkau tahu bahwa pilihan yang terbaik adalah pilihan yang pertama? Kemudian Tuhan menjawab: "Bagaimana kamu tahu bahwa pilihan yang sebelumnya Kuhadirkan yang juga hadir dari pilihan-pilihan yang ada adalah pilihan yang terbaik?"
Begitu kontras dan tidak akan pernah habis jika saya terus mencobai dan mempertanyakan Tuhan. Pada akhirnya saya memang harus menyerah dan biarkan Tuhan yang bekerja.
Waktu.
Biarkan waktu yang menjawab semua dilema yang ada. Karena waktu sudah memecahkan banyak hal.
No comments:
Post a Comment