piccc

7.28.2014

Keputusanku, Biar Aku Yang Bertanggung Jawab.

Pagi ini saya memulai hari dengan merenungkan beberapa hal, masih tetap bergelut dengan dilema saya yang kemarin, namun kini dosisnya sudah tidak sebesar beberapa hari yang lalu. See! I don't need much times untuk menyelesaikan masalah-masalah sepele yang sebenarnya hanya menjadi besar karena saya yang terlalu memikirkan banyak indikator-indikator yang tidak penting. Ya tetap saja, semua itu tergantung seberapa tinggi kadar masalah kita.

Ingin sebenarnya saya memberitahukan kabar gembira ini kepada kalian yang sedang membaca postingan saya, but at some points I know this isn't good if I reveal it to you or if you're going to ask me personally, saya akan dengan senang hati berbagi cerita berdua dengan si penanya, itupun kalau ada yang nanya ha ha ha.
Keputusan yang saya ambil beberapa bulan yang lalu mungkin bagi beberapa orang merupakan keputusan yang sangat aneh atau bahkan berpikiran abu-abu seperti hendak mencemooh saya. Yes, saya tahu dan saya sadar itu bukan bentuk cemooh melainkan tanda 'peduli' orang-orang terdekat saya. Biar saya pertegas, saya bukan orang kaya, keluarga saya bukan orang yang mudah menghambur-hamburkan uang, Ibu saya kerja mati-matian banting tulang untuk menghidupi saya, kakak saya, dan adik laki-laki saya. Saya sadar saya bukan siapa-siapa, dan visi saya kedepan hanya ingin membahagiakan Ibu saya dan kedua saudara saya. Dengan cara apa? Kuliah.

Dimulai dari kuliah, tujuan hidup saya perlahan mulai jelas.
Satu demi satu saya mencoba untuk memperbaiki puzzle mimpi yang dulu pernah setengahnya berhasil lalu berantakan, hampir berhasil lalu berantakan lagi. Mungkin baru sekitar 35%. Terlalu kecil? No, it's not, mungkin bagi kalian masih sangat kecil; tidak seberapa dibanding kalian yang sudah lebih dulu melangkah jauh kedepan, tapi tidak bagi saya. Saya beranikan diri untuk pasang angka sekecil itu dan membahagiakan diri sendiri atas dasar sudah mau berdiri daripada tidak sama sekali. Sisanya saya perhitungkan untuk akan jadi apa saya tahun depan dan tahun-tahun berikutnya bahkan sampai 5 tahun kedepan. 

Tahun ini saya putuskan untuk banting stir kuliah di jurusan yang masih banyak orang menganggapnya hanya dengan sebelah mata. Saya belajar dari Fitra (@economicsunaah) - teman dekat saya selama saya kuliah tingkat 1 di Universitas Gunadarma - untuk tidak begitu serius menanggapi tanggapan orang akan jurusan di kampus. Biarkan orang mau bilang apa, menjatuhkan kita, berpura-pura mendukung padahal di belakang mentertawakan, merusak rencana yang semula sudah disusun serapih mungkin dan berpaling dari mimpi. So please people, just be open minded. Saya juga belum sepenuhnya menjadi pribadi yang berpikiran luas dan terbuka but at least let's just do some researches before about why did this kid take that steps, what is the reason. We, humans, take decisions not when we're drunk or just like get a hangover osl.
Saya di kondisi yang sadar dan sehat ketika saya memutuskan untuk berhenti kuliah akuntansi. I just put God first on it and let He work on my decisions over all. So, what is to be feared?

Tulisan ini tak bermaksud saya ketik untuk merusak citra siapapun/apapun. Melainkan akan menjadi kontrol bagi saya sekaligus akan menampar saya jika berpaling dari omongan-omongan dan opini-opini saya yang pernah saya sampaikan untuk diri saya sendiri dan atas pilihan-pilihan yang telah saya pilih. Terima kasih untuk Mama dan kak Dini yang selalu mendukung Lia untuk beberapa bulan kebelakang, Mama yang pelan-pelan mulai mengerti dan hanya bisa terus mendoakan Lia agar tetap sabar dan terus berjalan di jalan Tuhan. Terutama untuk Fitra, dosen PKTI Ibu Fauziah, dosen Matek Pak Ichwan, dan beberapa orang yang menjadi inspirasi untuk saya yang tidak bisa saya cantumkan satu persatu.


Love,
ChandraNatalia.

No comments: